Perintah meninggalkan segala yang mubah karena untuk mendapatkan martabat yang mulia dan tinggalkanlah segala yang mubah yaitu yang dibolehkan memperbuatnya karena menuntut untuk mendapatkan segala maqam martabat yang tinggi.
Telah berkata Sayyidi Ali almurshofi:Tidaklah sah benar bagi murid penuntut maqam yang paling tinggi dalam berkeinginan hingga ia meninggalkan perbuatan yang mubah / perbuatan yang diperbolehkan.
Hendaklah ia menjadikan kedudukan setiap yang mubah setiap meninggalkan merupakan perintah yang syara dari hukum sunat atau yang utama, lalu ia menjauhi yang mubah seakan akan dilarang daripadanya dengan hukum makhruh yaitu makhruh tanjih , dan sungguh telah sepakat ketahui sufi atas bahwasanya.
Setiap orang yang menyiapkan bagi dirinya untuk mengerjakan segala yang dibolehkan, diringankan seperti segala ruh suh amalan yang ringan ringan tanpa mengerjakan yang berat berat niscaya tidak akan datang atau tidak memperoleh dirinya oleh sesuatu dari pada yang dari padanya maqam atau pangkat yang mulia disisi oleh Allah swt.
Dan terlah berkata Sayyid Ali Al-hawas:
tidaklah menjadikan Allah SWT akan hukum mubah atau hukum atau boleh melainkan untuk melapangkan baginya anak cucu Adam dari kesulitan beban yang diberikan.
Dimana Allah SWT juga menentukan dalam diri manusia ada rasa bosan daripada mengerjakan rasa yang dibebankan karena jikalau Allah swt tidak menentukan dalam diri manusia rasa bosan niscaya tidak akan mensyariatkan baginya yang namanya hukum mubah atau boleh.
Bagaimana Allah swt telah menentukan dengan para malaikat?
maka mereka tidak kenal akan apa yang namanya rasa bosan,maka oleh karena itulah para malaikat akan selalu bertasbih siang daln malam tidak pernah bosan.
Telah berkata Sayyidi Ali almurshofi:Tidaklah sah benar bagi murid penuntut maqam yang paling tinggi dalam berkeinginan hingga ia meninggalkan perbuatan yang mubah / perbuatan yang diperbolehkan.
Hendaklah ia menjadikan kedudukan setiap yang mubah setiap meninggalkan merupakan perintah yang syara dari hukum sunat atau yang utama, lalu ia menjauhi yang mubah seakan akan dilarang daripadanya dengan hukum makhruh yaitu makhruh tanjih , dan sungguh telah sepakat ketahui sufi atas bahwasanya.
Setiap orang yang menyiapkan bagi dirinya untuk mengerjakan segala yang dibolehkan, diringankan seperti segala ruh suh amalan yang ringan ringan tanpa mengerjakan yang berat berat niscaya tidak akan datang atau tidak memperoleh dirinya oleh sesuatu dari pada yang dari padanya maqam atau pangkat yang mulia disisi oleh Allah swt.
Dan terlah berkata Sayyid Ali Al-hawas:
tidaklah menjadikan Allah SWT akan hukum mubah atau hukum atau boleh melainkan untuk melapangkan baginya anak cucu Adam dari kesulitan beban yang diberikan.
Dimana Allah SWT juga menentukan dalam diri manusia ada rasa bosan daripada mengerjakan rasa yang dibebankan karena jikalau Allah swt tidak menentukan dalam diri manusia rasa bosan niscaya tidak akan mensyariatkan baginya yang namanya hukum mubah atau boleh.
Bagaimana Allah swt telah menentukan dengan para malaikat?
maka mereka tidak kenal akan apa yang namanya rasa bosan,maka oleh karena itulah para malaikat akan selalu bertasbih siang daln malam tidak pernah bosan.
Minta rela... (Ksy)
0 Komentar