Bermula ilmu-ilmu rasa itu datang ketika asyik-asyiknya seseorang dengan Allah itu kadang-kadang kata-katanya itu sedikit sulit untuk dipahami. Tetapi setelah beberapa waktu dapat dipahami karena sudah hilang asyiknya dengan tajalli Allah tadi, maka mendapatkan lah sebuah penjelasan
.
Dalam memberikan pemahaman kadang bisa menggunakan hakikat atau menggunakan akal pikiran melalui i'tibar dari ilmu yang mereka miliki
.
Misalnya, orang yg sedang asyik dengan Allah itu kata-katanya apabila dilihat dari dzohir terkadang sulit untuk dipahami bahkan terkadang bisa salah. Contohnya "Tidak ada dalam jubahku kecuali Allah" ini adalah salah satu kata yang salah, dan kalau dipaham secara dzohir pasti kafir. ini jadi terucap oleh hamba karena waktu itu sedang asyiknya memandang Allah
.
Sebenarnya maksudnya itu benar, karena maksudnya, "tidak ada dalam jubahku kecuali Allah, maknanya tidak ada didalam jubahku kecuali cerita Allah." Contoh lain, tidak ada didalam lampu kecuali Allah, maknanya didalam lampu itu pasti ada cerita Allah ketika menerangi sesuatu
.
Seandainya ada orang yg mengatakan bahwa merayakan maulid itu adalah sesuatu yg terlalu berlebihan, itu artinya mereka tidak mengerti cinta. Karena sesungguhnya arti cinta itu berada diluar logika
.
Seperti seorang hamba yg mencintai Allah SWT. Terkadang kata-kata yg keluar itu biasanya terlalu berlebihan seperti "ya Allah, jika aku mencintaimu karena surga, maka tutuplah rapat-rapat pintu surga. Ya Allah, Jika aku mencintaimu karena takut neraka, masukkanlah aku didalamnya. Tetapi, jika aku mencintaimu karena engkau ya Allah, maka jangan palingkan mukamu ketika bertemu" karena memang seperti inilah bahasa cinta
.
Bermula makna yg awalnya seperti salah, tetapi sebenarnya memiliki kebenaran, itulah bahasa cinta. Karena bahasa cinta memiliki macam-macam makna yg mampu mengubah pandangan dalam penilaian logika
.
Oleh karena itu apabila ingin belajar untuk memahami kata-kata dari para ahli tassawuf itu bisa diharamkan apabila kita tidak ahli dalam memaknainya
.
Orang ahli tassawuf selalu menggunakan kata hakikat diluar syariat, karena syariat tanpa hakikat akan hampa tanpa arti apa-apa .
.
Dalam memberikan pemahaman kadang bisa menggunakan hakikat atau menggunakan akal pikiran melalui i'tibar dari ilmu yang mereka miliki
.
Misalnya, orang yg sedang asyik dengan Allah itu kata-katanya apabila dilihat dari dzohir terkadang sulit untuk dipahami bahkan terkadang bisa salah. Contohnya "Tidak ada dalam jubahku kecuali Allah" ini adalah salah satu kata yang salah, dan kalau dipaham secara dzohir pasti kafir. ini jadi terucap oleh hamba karena waktu itu sedang asyiknya memandang Allah
.
Sebenarnya maksudnya itu benar, karena maksudnya, "tidak ada dalam jubahku kecuali Allah, maknanya tidak ada didalam jubahku kecuali cerita Allah." Contoh lain, tidak ada didalam lampu kecuali Allah, maknanya didalam lampu itu pasti ada cerita Allah ketika menerangi sesuatu
.
Seandainya ada orang yg mengatakan bahwa merayakan maulid itu adalah sesuatu yg terlalu berlebihan, itu artinya mereka tidak mengerti cinta. Karena sesungguhnya arti cinta itu berada diluar logika
.
Seperti seorang hamba yg mencintai Allah SWT. Terkadang kata-kata yg keluar itu biasanya terlalu berlebihan seperti "ya Allah, jika aku mencintaimu karena surga, maka tutuplah rapat-rapat pintu surga. Ya Allah, Jika aku mencintaimu karena takut neraka, masukkanlah aku didalamnya. Tetapi, jika aku mencintaimu karena engkau ya Allah, maka jangan palingkan mukamu ketika bertemu" karena memang seperti inilah bahasa cinta
.
Bermula makna yg awalnya seperti salah, tetapi sebenarnya memiliki kebenaran, itulah bahasa cinta. Karena bahasa cinta memiliki macam-macam makna yg mampu mengubah pandangan dalam penilaian logika
.
Oleh karena itu apabila ingin belajar untuk memahami kata-kata dari para ahli tassawuf itu bisa diharamkan apabila kita tidak ahli dalam memaknainya
.
Orang ahli tassawuf selalu menggunakan kata hakikat diluar syariat, karena syariat tanpa hakikat akan hampa tanpa arti apa-apa .
Minta rela... (Ph)
0 Komentar